Hingga suatu hari, kami putuskan untuk jumpa
darat sepulang jam kantor, aku lupa tanggal berapa tapi yang pasti hari
pertemuan kami tentukan bersama hari Jum’at. Setelah menentukan dimana aku mau
jemput, sepulang kantor aku langsung kendarai mobil butut starletku untuk
meluncur di tempat yang janjikan. Dengan perasaan deg-deg an, sepanjang
perjalanan aku berfikir secantik apakah Reny yang usianya lebih tua dari aku 2
tahun. Dan pikiranku terasa semakin amburadul ketika aku bener-bener ketemu
dengan Reny. Wow! Aku berdecak kagum dengan kecantikan Reny, tubuhnya yang sexy
dengan penampilannya yang anggun membuat setiap kaum adam berdesir melihatnya.
Tidak terlihat dia seorang ibu muda dengan 3 orang anak, Reny adalah sosok
cewek favorite aku. Mulai dari wajahnya, dadanya, pinggulnya dan alamak..
pantatnya yang sexy membuat aku menelan ludahku dalam-dalam saat membayangkan
bagaimana jika aku bisa bercinta dengan Reny.
Tanpa pikir panjang dan menutupi kegugupan aku.
Aku memancing untuk menawarkan pergi ke salah satu motel di sudut kota (yang
aku tahu dari temanku). Sepanjang perjalanan menuju hotel, jantungku berdetak
kencang setiap melirik paras Reny yang cantik sekali dan aku membayangkan jika
aku dapat menikmati bibirnya yang tipis.. Dan sepanjang itu juga “adik kecilku”
mulai bangkit dari tidurnya. Tidak lama sampailah kami di salah satu Motel, aku
langsung memasukan mobilku kedalam salah satu kamar 102.
Didalam kamar aku sangat grogi sekali bertatapan dengan wajah Reny..
Didalam kamar aku sangat grogi sekali bertatapan dengan wajah Reny..
“Met kenal Reynold,” Reny membuka obrolan.
“hey Reny..,” aku jawab dengan gugup.
Aku benar-benar tidak percaya dengan yang aku hadapi, seorang ibu rumah tangga yang cantik sekali, sampai sempat aku berfikir hanya suami yang bego jika tidak bisa menyayangi wanita secantik Reny.
Kami berbicara hanya sekedar intermezo saja karena memang kami berdua tampak gugup saat pertemuan pertama tersebut. Sedangkan jantungku berdetak keras dibareng “adik kecilku” yang sudah meronta ingin unjuk gigi.
“hey Reny..,” aku jawab dengan gugup.
Aku benar-benar tidak percaya dengan yang aku hadapi, seorang ibu rumah tangga yang cantik sekali, sampai sempat aku berfikir hanya suami yang bego jika tidak bisa menyayangi wanita secantik Reny.
Kami berbicara hanya sekedar intermezo saja karena memang kami berdua tampak gugup saat pertemuan pertama tersebut. Sedangkan jantungku berdetak keras dibareng “adik kecilku” yang sudah meronta ingin unjuk gigi.
“Reynold meskipun kita di sini, tidak apa-apakan
jika kita tidak bercinta,” kata Reny.
Aku tidak menjawab sepatah katapun, dengan lembut aku gapai lengannya untuk duduk di tepi ranjang. Dengan lembut pula aku rangkul dia untuk rebahan diranjang dan tanpa terasa jantungku berdetak keras, bagaikan dikomando aku menciumi leher Reny yang terlihat sanagt bersih dan putih.
“Reny kamu sangat cantik sayang..,” aku berbisik.
“Dann.. jangan please..,” desahan Reny membuat aku terangsang.
Lidahku semakin nakal menjelajahi leher Reny yang jenjang.
“Akhh Reynold..”
Tanpa terasa tanganku mulai nakal untuk menggerayangi payudara Reny yang aku rasakan mulai mengencang mengikuti jilatan lidahku dibalik telinganya.
“Ooohh.. Danddyy..”
Reny mulai mengikuti rangsangan yang aku lakukan di dadanya. Aku semakin berani untuk melakukan yang lebih jauh..
“Reny, aku buka jas kamu ya, biar tidak kusut..,” pintaku.
Aku tidak menjawab sepatah katapun, dengan lembut aku gapai lengannya untuk duduk di tepi ranjang. Dengan lembut pula aku rangkul dia untuk rebahan diranjang dan tanpa terasa jantungku berdetak keras, bagaikan dikomando aku menciumi leher Reny yang terlihat sanagt bersih dan putih.
“Reny kamu sangat cantik sayang..,” aku berbisik.
“Dann.. jangan please..,” desahan Reny membuat aku terangsang.
Lidahku semakin nakal menjelajahi leher Reny yang jenjang.
“Akhh Reynold..”
Tanpa terasa tanganku mulai nakal untuk menggerayangi payudara Reny yang aku rasakan mulai mengencang mengikuti jilatan lidahku dibalik telinganya.
“Ooohh.. Danddyy..”
Reny mulai mengikuti rangsangan yang aku lakukan di dadanya. Aku semakin berani untuk melakukan yang lebih jauh..
“Reny, aku buka jas kamu ya, biar tidak kusut..,” pintaku.
No comments:
Post a Comment